PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) memandang bahwa karakter pendidik adalah fondasi utama dari seluruh sistem pendidikan. Di tahun 2026, di mana teknologi $AI$ mulai mengambil alih tugas-tugas kognitif, karakter guru—seperti empati, integritas, dan keteladanan—menjadi pembeda utama yang tidak bisa digantikan oleh mesin. Berikut adalah peran strategis PGRI dalam mengembangkan dan menjaga karakter pendidik: 1. Transformasi …
Berikut adalah peran strategis PGRI dalam mengembangkan dan menjaga karakter pendidik:
1. Transformasi Karakter melalui Keteladanan Digital
Pengembangan karakter saat ini tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di ruang digital. PGRI mendorong guru untuk menjadi model perilaku (role model) yang berintegritas di media sosial dan platform pembelajaran.
-
Integritas Intelektual (SLCC): Melalui Smart Learning and Character Center, PGRI melatih guru untuk menggunakan teknologi dengan etis. Karakter jujur dan anti-plagiarisme dalam penggunaan $AI$ menjadi fokus utama agar guru tetap menjadi otoritas moral bagi siswa.
2. Penguatan Etika melalui DKGI
Karakter seorang pendidik diuji melalui konsistensinya terhadap nilai-nilai moral. PGRI menyediakan wadah formal untuk menjaga komitmen ini.
-
Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI): Lembaga ini bukan sekadar pengawas, melainkan penjaga marwah. Dengan menegakkan Kode Etik Guru Indonesia, PGRI memastikan karakter guru tetap terjaga dari godaan profesionalisme semu, tindakan amoral, atau politisasi profesi.
3. Matriks Dimensi Pengembangan Karakter PGRI
| Dimensi Karakter | Strategi Penguatan | Hasil pada Pendidik |
| Integritas | Penegakan Kode Etik (DKGI). | Guru menjadi sosok yang dipercaya publik (public trust). |
| Resiliensi | Solidaritas Ranting & Cabang. | Guru tetap teguh menghadapi beban administrasi dan hukum. |
| Empati | Komunitas Belajar Sejawat. | Guru mampu memahami kebutuhan unik setiap siswa. |
| Nasionalisme | Gerakan Organisasi PGRI. | Guru menjadi perekat persatuan bangsa di sekolah. |
4. Karakter Tangguh (Resiliensi) melalui LKBH
Salah satu karakter yang paling ditekankan PGRI di tahun 2026 adalah ketangguhan (resilience). Guru harus berani mendidik dan mendisiplinkan siswa demi pembentukan karakter tanpa merasa terancam.
-
Perlindungan Hukum (LKBH): Dengan adanya jaminan bantuan hukum, PGRI membangun karakter guru yang berani (tetapi tetap terukur). Karakter pendidik yang “takut” hanya akan melahirkan generasi yang lemah. Dengan rasa aman, guru dapat kembali menjadi sosok yang tegas namun penuh kasih sayang.
5. Solidaritas sebagai Wujud Karakter Sosial
Karakter pendidik juga tercermin dari bagaimana mereka memperlakukan sesama rekan sejawat.
-
Karakter Kolaboratif: PGRI menghapus sekat “kasta” antara guru ASN, P3K, dan Honorer. Karakter rendah hati dan saling menghargai dipupuk melalui gerakan satu korps.
-
Gotong Royong di Ranting: Di tingkat sekolah, anggota PGRI saling membantu dalam menghadapi dinamika kebijakan (seperti pengisian PMM). Karakter peduli sejawat ini mencegah terjadinya stres kerja (burnout) dan menciptakan lingkungan sekolah yang hangat.
Kesimpulan:
Bagi PGRI, pengembangan karakter pendidik adalah upaya untuk “Memanusiakan Guru di Era Teknologi”. Dengan memperkuat integritas melalui DKGI dan ketangguhan melalui LKBH, PGRI memastikan bahwa guru tetap menjadi obor moral yang mampu menerangi jalan bagi generasi emas bangsa.


